Malam ini aku merindukannya lagi..
Aku baru saja pulang dari kos temanku pukul 22.00 , Kami mengerjakan tugas bersama dan membuat rujak. Dan saat ini aku ada di kamarku, sedang merenung tentang rasa rujak tadi yang terlau asin..
lalu tiba-tiba saja lamunanku berlanjut kepada sosoknya..
lalu tiba-tiba saja lamunanku berlanjut kepada sosoknya..
Sore itu, aku menghampirinya di dapur. Dia sedang membuat bumbu rempah untuk lauk kita malam nanti, lalu pandanganku terfokus pada dua toples yang berisi garam. karena penasaran aku bertanya padanya, begini percakapannya.
"Nek, kenapa kok punya garam sampe dua toples?"
"Iya itu garam yang kasar, garam buat diulek sama bumbu-bumbu, biar nguleknya enak. lekas lembuk."
"oh gitu.."
"Nek, kenapa kok punya garam sampe dua toples?"
"Iya itu garam yang kasar, garam buat diulek sama bumbu-bumbu, biar nguleknya enak. lekas lembuk."
"oh gitu.."
Aku merindukannya malam ini..
Merindukan tangan keriputnya yang kasar..
Rindu mata sayunya yang menatapku lembut..
Rindu Suaranya ketika memanggil namaku..
Rindu tumis labu masakannya..
Rindu ketika aku menyentuhnya, mencubit lengan keriputnya, memeluk tubuh ringkihnya, dia.. haruskah pergi secepat itu?
Merindukan tangan keriputnya yang kasar..
Rindu mata sayunya yang menatapku lembut..
Rindu Suaranya ketika memanggil namaku..
Rindu tumis labu masakannya..
Rindu ketika aku menyentuhnya, mencubit lengan keriputnya, memeluk tubuh ringkihnya, dia.. haruskah pergi secepat itu?
Aku merindunya malam ini, dan kurahap besok tidak lagi. Karena merindukannya sama seperti membuka perban pada luka yang belum kering. Tidak sakit, tapi nyeri..
Demanozha
