Sudah setahun ngga nulis disini. Sekalinya nulis malah bawa kabar duka. Sama seperti deskripsi blog ini, aku mendadak jadi penulis hanya ketika aku lagi galau, atau sedih aja.
Hmm, hari ini aku mau cerita..
Jadi.. udah hampir tiga puluh hari mbah Tomo meninggal. Tapi rasa gak percayanya masih ada sampe sekarang. Malam itu beliau menutup mata dengan aku yang ada di sampingnya, ada rasa senang tapi lebih banyak rasa sedihnya sih sebenernya. Senengnya karena aku ada di samping beliau di saat detik-detik terakhirnya. Sedihnya karena aku belum bisa menerima fakta kalo beliau sudah tiada, dan sampai sekarangpun aku akan selalu mengingat lirikan matanya kepadaku sebelum beliau menutup mata untuk selamanya seakan beliau berpamitan.
Mau tau ngga kenapa aku cerita ini disini? Itu karena aku pikir, orang-orang ga akan tau seberapa sedih aku karena kehilangan beliau dan seberapa banyak itu mempengaruhi aku. Orang-orang itu ga akan paham. Sebagian orang mungkin akan berpikir 'Oh cuma mbah ini, bukan orang tua (ayah/ibu). Mungkin dari semua orang yang ada saat itu, cuma Bapak yang tahu seberapa sedih dan bingungnya aku.
Beberapa hari sebelum meninggal, nafas mbah udah kerasa berat sekali. Nafasnya cepet banget, dan sempet aku tegur juga. Saat itu aku cuma berdua dan nemenin mbah tiduran, kami hening aja tidak ada pembicaraan, cuma terdengar deru nafasnya aja yang menurutku udah ga wajar. Aku bilang:
"Mbah, nafasnya bisa biasa aja gasih? Itu mbah nafasnya cepet banget lo.."
"Biasa aja gimana bhing? Ini udah biasa kok mbah.."
"Mbah tuh nafasnya cepet bgt loo, mbah sesak nafas ya..?"
"Nggak.."
Setelah itu kita berdua sama-sama diam. Sibuk dengan pikiran kita masing-masing. Saat itu juga aku tatap wajahnya dalam-dalam, aku pandangi daun telinganya dengan teliti, karena sebelumnya aku telah membaca artikel tanda-tanda orang yang akan meninggal itu salah satunya adalah daun telinganya akan mengkerut kedalam, tapi telinga mbah tidak, aku saat itu sedikit diliputi kelegaan.
Sebelum kematiannya, mbah jadi banyak diam, sekalinya ngomong tuh bikin hati nelangsa. Beliau pernah bilang gini:
"Semoga mbah bisa sembuh ya, semoga masih bisa liat Arkan sama Silfa lulus aliyah." Fyi Arkan dan Silfa itu adalah cucu-cucu mbah, dan juga sepupu-sepupuku.
Beliau juga pernah berkata ingin mengantarku saat aku wisuda. Selain itu di saat-saat sebelum kematiannya, mbah jadi terlalu sering berbicara tentang kematian, "Gimana ya bhing, kalo mbah meninggal?" Yang langsung aku jawab dengan tegas, "Gak boleh!"
Disaat malam kematiannya, waktu itu di dini hari mbah ngotot sekali ingin ke kamar mandi, dan tentu saja tidak aku perbolehkan. Karena saat itu hanya ada aku dan mbah salamah, aku takut mbah jatuh atau aku tidak kuat memeganginya. Tetapi setelah diskusi panjang diantara kami bertiga, akhirnya aku dan mba salamah mengantar mbah ke kamar mandi. Aku hanya mengantarkan mbah sampai dapur, dan mbah salamah yang mendampingi mbah ke kamar mandi. Aku kembali dan menunggu sambil duduk di ruang keluarga yang tak jauh dari dapur. Lalu sesaat kemudian mbah salamah memanggilku, aku kemudian menghampirinya dan membantunya membawa mbah ke kamar. Tetapi, kita berdua kesulitan, mbah sudah semakin lemas, nafasnya tak beraturan, karena takut mbah akan jatuh kami mendudukkan mbah ke kursi dan menyandarkan beliau disana.
Saat itu kami berdua kebingungan, tapi tetap berusaha tenang, aku mengelus dadanya berharap beliau bisa bernafas dengan normal, lalu memberinya minum dan beliau menyambutnya dengan sedotan panjang, sepertinya beliau sangat haus sekali saat itu. Setelah sedikit tenang aku memutuskan untuk memanggil bapak untuk membopong mbah ke kamar.
Kami (Aku, Mbah salamah, Bapak, Pak Maryono) menidurkan mbah dengan posisi terlentang berharap agar beliau bisa mengatur pernafasannya kembali. Saat itu sudah banyak orang, aku yang ada disamping mbah berkali-kali mengatakan "Gakpapa mbah, gakpapa.." Sembari mengelus-ngelus dadanya dengan lembut.
Semua orang disana menyuruh beliau menyebut asma Allah, dan sesaat kemudian nafas mbah benar-benar stabil, sebentar aku merasa lega luar biasa, untuk kemudian merasa tersengat oleh orang-orang yang makin gencar membisikan mbah dengan asma Allah. Aku tertegun, mendadak merasa hampa. Aku masih ada disampingnya memegang dadanya, lalu mata itu menatapku sesaat untuk kemudian diam dan dilingkupi kekosongan.
Saat itu aku menoleh dan menatap bapak yang ada disampingku meminta penjelasan, bapak hanya mengangguk samar, saat itulah aku sadar.. mbah sudah tiada.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.. Begitu mudahnya mbah meninggalkan kami, sangat tenang seperti orang yang jatuh tertidur.
Kenapa harus ada perpisahaan? Kenapa harus ada kematian? Pertanyaan itu berputar-putar di otak berhari-hari setelah kematian mbah. Semoga saja, cukup ini yang terakhir. Aku bener-bener gak suka rasa kehilangan seperti itu. Memikirkan suatu saat nanti mungkin ayah atau ibu akan tiada sebelum aku. Rasanya benar-benar mneyakitkan bahkan ketika aku membayangkannya saja. Dan keinginan itu tiba-tiba terlintas dikepala. Aku ingin tiada terlebih dahulu sebelum mereka. Aku memang benar-benar egois kan? Hanya memikirkan 'Apa jadinya aku jika tidak ada mereka?' dan tidak memikirkan 'Apa jadinya mereka jika tidak ada aku?'
Singkatnya sih, setelah kehilangan mbah aku jadi semakin overthinking dan takut ditinggalkan orang-orang yang aku sayangi. Tapi kalo pemikiran itu udah menggangu banget sih, aku akan mengatakan kepada diriku sendiri 'Apasih yang aku takutin? Masih ada allah, sebanyak apapun aku ditinggalkan, allah ga akan ninggalin aku.' dan itu sangat-sangat membantu.
Belum lagi pemikiran-pemikiran negatif lain seperti 'Abis ini masalah/musibah apa lagi nih yang akan datang?' Simpelnya, takut sama sesuatu yang mungkin akan terjadi di masa depan. Orang lain juga pernah ngerasa gitu ga sih? Atau hanya aku aja yang punya pemikiran gak penting itu?
Membicarakan perpisahaan dan kematian memang tidak pernah terasa menyenangkan. Padahal ‘Semua yang ada di dunia ini adalah titipan, yang suatu saat akan kembali kepada-NYA’
-Demanozha-
